Inspirasi

Hanya Satu Harapanku, Yaitu Berharap Semoga Orang Tuaku Masih Bisa Bernafas Disaat Aku Sukses Nanti

Harini adalah hari yang paling membahagiakan buat aku. Ketika waktu masih berselimutkan kabut dan embun pagi yang dingin menusuk sampai ke sumsum tulang belakang, aku sudah bangun untuk menyambut kebahagiaan yang akan aku selesaikan harini, tetapi ini bukanlah akhir dari perjalanan hidupku melainkan sebuah awal untuk memulai kehidupan baruku dengan pengalaman dan ilmu yang telah kudapatkan. Hari-hari yang ku tunggu-tunggu dan ku tempuh selama empat tahun di temapatku mengenyam pendidikan tidak sia-sia, harini akan ku persembahkan Toga buat ayah dan ibuku tercinta.

Masih terbesit dalam ingatan ku beberapa masa yang lalu, ketika kepolosan ku masih mengudara, nasihat ayah dan ibu selalu terdengar bising di telinga.

Nak, kamu harus sekolah, tidak boleh malas dan tidak boleh menyerah, hidupmu akan lebih baik bila kamu bersekolah, belajarlah sepuas-puasnya sampai ke Negeri China, jangan sampai kamu mengikuti jejak ayah dan ibumu yang hanya seorang petani, jadilah anak yang pintar, menjadi seseorang yang terpandang di mata orang banyak, ayah dan ibu akan senang melihatmu di balik layar sekalipun ayah dan ibu tidak lagi bersama-sama denganmu menjalani hidup. Ayah dan ibu dari kejauhan akan melihat dan bangga akan keberhasilanmu, ingatlah ‘nak jangan pernah sekali-sekali menyombongkan apa yang sudah kamu raih tetapi pergunakanlah keahlian dan kebaikanmu dengan bijaksana, buatlah orang-orang tersenyum, buatlah mereka menjadi saksi nyata keberhasilanmu karena tidak ada kepuasan yang paling berarti selain membahagiakan orang lain di sekitarmu. Acuhkan celotehan yang menyudutkanmu buatlah dunia membuka mata kalau kamu bisa merubah dunia dengan secercah harapan pembawa kebahagiaan.”

Ketika itu aku masih belum paham dengan kata-kata yang di ucapkan ayah dan ibu.

Tetapi sekarang usiaku sudah mulai beranjak dewasa, pemikiranku sudah lebih matang, aku sudah bisa melihat dunia dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Aku pilu ketika aku seringkali berbohong pada ayah dan ibu dari kejauhan tempatku berada, aku menyesal dengan perbuatanku, aku sadar ketika Tuhan mulai mengetuk hatiku untuk bangkit kala aku jatuh dan aku seringkali tidak mendapatkan nilai yang bagus. Aku sadar ketika uang tak lagi di kirim dan aku sadar ketika kelaparan sudah melanda. Tetapi mengapa? Aku kembali bertanya dalam hati mengapa aku bisa begini apakah yang sudah saya perbuat atas balas jasa kepada mereka.

Aku sudah dewasa sudah mempunyai pacar dan sudah tahu tentang cinta, sebuah pintu regenerasi yang nantinya akan menjadi bahtera kehidupanku. Baiklah sekarang aku harus lebih bijaksana untuk membentuk kehidupanku, aku harus lebih bijaksana dalam mengenyam pendidikan, aku harus bisa mengimbangi masa kanak-kanakku karena aku sudah gede jadi aku harus bisa menghasilkan uang sendiri melalui karyaku sendiri. Aku takut pada Tuhan, aku malu pada ayah dan ibu karena aku hanya berfoya-foya dari kejauhan pandangan mata mereka.

Ayah, ibu, waktuku bersama kalian tidaklah lama, usia kalian sudah menua seiring pertumbuhanku.

Harini aku akan menyandang Sarjana…tetapi ini belumlah usai perjuangan hidupku,(sungkem di kaki ayah dan ibu). Kiranya restu ayah dan ibu bisa menjadi tameng bagi diriku kelak, aku ingin kehidupanku lebih baik karena sekarang aku berada di sini bersama kalian, di tempat ini kalian hadir, dari kejauhan rumah kita kalian datang untuk menyaksikan kepalaku di pasangi Toga. Ayah, ibu, aku tahu dan pasti semua orang tahu kalau kalian datang kesini dengan naik rumah turun rumah, menjual rasa malu kalian demi aku, demi selembar Rupiah kalian korbankan martabat demi membiayai keberhasilanku, demi cita-cita yang ku inginkan. Aku hanya membuang-buang uang yang sudah kalian hasilkan dengan jerih payah keringat kalian. Ayah, ibu, aku sangat bangga pada kalian, aku sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang begitu sayang dan memperhatikan kehidupanku sedari kecil sampai saat sekarang di tempat ini. Ayah, ibu, bukan dengan keberhasilan aku bangkit, aku bisa bangkit dari kesalahan karena dukungan kalian, aku yakin Tuhan pasti senang karena ayah dan ibu sudah mendidik aku dan adik-adik dengan baik. Semoga ayah dan ibu menjadi teladan bagi aku dan adik-adik nanti.

Dengan baju kebesaran sebagai seorang mahasiswa di pakai dengan kepala tegak, berbaris masuk ke dalam gedung dengan arak-arakkan yang begitu megah dan meriah, di sambut oleh tari-tarian dan nyanyian koor dengan Mars Universitas….aku melihat dari celah-celah baju orang paling kiri kearah ayah dan ibu, aku melihat senyuman yang begitu paripurna yang pernah ku lihat selama aku kecil sampai sekarang, aku tidak menyangka mereka begitu membanggakan aku. Aku hanya tertunduk diam dengan mata berkaca-kaca, dalam hati aku berbicara,”ayah, ibu, terimakasih untuk segala pengorbanan yang telah kalian korbankan buat aku, aku berjanji pada diriku sendiri sehidup dan semati aku akan membuat hidupku lebih baik lagi setelah aku di pasangi Toga nanti, aku akan membahagiakan kalian berdua sebelum kalian meninggalkanku, aku hanya ingin melihat kalian bahagia di hari tua nanti, aku akan memberhentikan kalian dari pekerjaan yang berat, cukuplah sudah penderitaan kalian biar sekarang aku yang tanggung, aku tidak mau melihat hari tua kalian dengan air mata dan penyesalan. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita semua bila kita berjalan di jalanNYA.”

Barisan yang tertata rapi aku duduk di bangku paling depan, ketika namaku di kumandangkan kulihat ayah dan ibu berdiri memberi tepukan tangan, aku berjalan dengan bangga untuk menerima Toga dan Ijazah yang akan menjadi masa depanku nanti. Aku mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena tali Toga yang sebelumnya berada di bagian kiri sekarang sudah ada di bagian kanan sebagai tanda selesainya aku mengenyam pendidikan di Universitas….

Ketika palu penutup Wisuda di bunyikan aku berlari mendapatkan ayah dan ibu lalu aku mengecup kening ayah dan ibu, aku mencium kaki dan tangan mereka, aku tidak sanggup melihat airmata kebahagiaan dan airmata penyesalan yang di tunjukkan ayah dan ibu di sela keriputan kulit mereka.

Tuhan ini adalah hari paling bahagia buat ayah, ibu, dan aku, biarlah kehidupan kami selanjutnya menjadi lebih bahagia karena KuasaMU Menyertai, Amin.

Kutipan:

1.Jadikanlah orang tua sebagai, orangtua, teman, sahabat, pacar, dll. Buatlah diri kalian sedekat mungkin dengan mereka, jangan sampai terlambat membuat mereka menyesal karena kelakuan kita sebelum mereka kembali pulang ke Pangkuan Tuhan. Memang mereka berada di kejauhan kita berada tetapi mata mereka adalah Mata Tuhan dan Tuhan melihat laku kita sehari-hari.

2.Jadikanlah pendidikan sebagai pengalaman dan makanan sehari-hari untuk kebahagian bersama keluarga, sahabat, pacar, dan orang di sekitar kita. Jangan pernah menyombongkan diri satu sama lain sekalipun mereka yang tidak pernah bersekolah, kita semua sama dan tidak ada pembatas bagi kita untuk berbagi.

3.Luangkan pengalaman dan keahlian kita untuk membantu, tidak perlu pamrih karena berkat dari ketulusan akan lebih besar….

4.Toga adalah akhir perjalanan dari mengenyam pendidikan di Universitas tetapi Toga yang sebanarnya adalah Pengamalan Ilmu kita buat orang banyak…

“Bahagiakan orangtuamu sebelum menua dan akhirnya meninggalkan kita dalam memori selamanya.”

Tags
Baca Selengkapnya...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close