Inspirasi

Hidup Tak Selalu Sempurna, yang Terjadi Tak Selalu kita Suka, Tapi Kita Bahagia Dengan Cara Mensyukurinya

Bersyukur adalah kata yang mudah terucap pada lisan kita, tapi tak cukup mudah tuk dilakukan di dunia nyata.

Orang-orang mempunyai permasalahan hidup yang berbeda-beda. Ada garis takdir yang membedakan itu semua.

Ada yang kaya, miskin, sederhana, cantik, tampan, adapula yang terlahir dalam kondisi organ lengkap, dan yang terlahir dalam kondisi tidak memunginkan. Atau katakanlah ada salah satu organ tubuhnya yang mengalami masalah.

Hidup ini memang tak bisa kita harapkan menjadi sempurna seperti yang kita inginkan, apa yang terjadi juga kadang tak selalu kita suka. Namun kunci dari semua itu supaya kita tetap bahagia adalah dengan cara mensyukurinnya.

Ada Sepenggal Kisah Orang Shalih Bernama Abu Qilabah yang akan Membuat Kalian Marah

Saya merasa sangat marah ketika membaca kisah Abu Qilabah. Cerita mengenai Abu Qilabah ini diceritakan oleh Abu Ibrahim.

Saat itu beliau menemukan sebuah tenda lawas di tengah padang pasir. Abu Ibrahim yang tersesat waktu itu pun berniat bertanya pada seseorang yang tinggal di tenda tersebut.

Di dalam tenda itu ada seorang kakek tua yang terduduk di atas tanah. Kakek itu tidak memiliki tangan, kedua-duanya buntung, matanya buta dan hidup sebatang kara tanpa ada yang menemani. Tanpa ada keluarga, istri, anak, atau Ibu dan Ayah.

Dalam keadaannya itu, Abu Ibrahim melihat bahwa bibir kakek itu tiada hentinya komat-kamit. Kakek tua tersebut sedang membaca dan mengulang-ulang kalimat berikut:

“segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia”

Kalimat itu diucapkan berkali-kali, dan terus diulang-ulang tiada henti.

Abu Ibrahim yang melihat itu pun bingung. Lantas beliau bertanya beberapa hal.

Salah satu pertanyaannya adalah mengenai kalimat yang terus ia ulang dan baca terus-terusan itu.

“Kamu terus mengulang-ulang perkataan ‘Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia’. Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan Allah kepadamu? Sementara engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya dan sebatang kara,” ucap Abu Ibrahim saat itu.

Kakek tua itu pun menjawab.

“Aku akan menceritakannya padamu, tapi aku punya satu permintaan, maukah kamu mengabulkannya?”

“Jawab dulu pertanyaanku, nanti aku akan mengabulkan permintaanmu,” balas Abu Ibrahim.”

Kakek tua itu pun mulai menceritakan semuanya. Mengenai alasan kenapa ia merasa bahwa sangat dilebihkan Allah dibanding manusia lain dengan keadaannya yang tak baik-baik saja itu.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah kepadaku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang telah melebihkanku di atas banyak manusia lainnya.

Bukankah Allah memberikanku akal sehat. Dengan akal sehat aku bisa berpikir dan memahami sesuatu. Keadaanku tentu saja lebih baik daripada orang gila yang telah kehilangan akal sehatnya. Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.

Allah juga memberikanku pendengaran, dengan pendengaran ini aku bisa mendengar suara adzan, mengetahui apa yang ada di sekelilingku dan memahami ucapan. Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas mansuia lain yang tidak bisa mendengar.

Allah memberiku lisan, dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku. Lantas ada berapa orang yang bisu tidak bisa bicara? Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak orang tersebut.

Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembahNya, mengharap pahala darinya dan bersabar atas musibahku? Sementara ada banyak orang yang menyembah berhala, salib dan sebagainya sedangkan mereka dalam keadaan sakit juga. Mereka sangat merugi dunia akhirat.

Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang-orang yang tidak satu agama denganku.”

Dan kakek tua itu terus dan terus mengucapkan kenikmatannya satu per satu. Kakek tua itu terus mengucap syukur karena dibanding dirinya, ada yang lebih menderita lagi. Ada yang kehilangan penglihatannya, pendengaran, lumpuh, kehilangan organ tubuhnya, dan lain-lain.

Renungan Abu Ibrahim dengan cerita Kakek tua itu terputus ketika orang tersebut mengatakan:

“Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang? Maukah kamu mengabulkannya?”

Singkat cerita, Kakek tua itu meminta Abu Ibrahim untuk mencari anak kecil usia 14 tahun yang sering memberinya makan dan mewudhukannya. Abu Ibrahim kemudian mencari keberadaan anak kecil itu. Setelah mencari ke sana kemari ia menemukan sekumpulan gagak yang memangsa daging manusia yang tercabik-cabik akibat serangan serigala.

Dengan kabar buruk tersebut, Abu Ibrahim kembali ke tenda Kakek tua dan memberitahu kabar tersebut. Setelah diberitahu, kakek itu sangat terkejut, dan dengan keadaan raga yang sudah tak kuat itu membuatnya syok teramat sangat lalu meninggal dunia. Abu Ibrahim menuntun kakek tua itu untuk mengucap syahadat.

Abu Ibrahim kemudian mencari bantuan lalu bertemu dengan penunggang unta. Ia membawanya ke tenda kakek tua, saat penutup dibuka, para penunggang unta itu berkata, “Abu Qilabah, Abu Qilabah.”

Ternyata Kakek tua itu adalah seorang ulama. Akan tetapi bersamaan dengan waktu yang silih berganti, dan ia ditimpa berbagai musibah hingga membuatnya menyendiri dari masyarakat dalam sebuah tenda kumuh.

Suatu malam, Abu Ibrahim memimpikan Abu Qilabah. Ia melihat pria tua itu berjalan-jalan di tanah hijau dengan badan yang sempurna.

Abu Ibrahim kemudian bertanya.

“Hai Abu Qilabah, apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat sekarang ini?”

Abu Qilabah kemudian menjawab:

“Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan padaku ‘Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu. Maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali’.”

Hidup Tak Selalu Sempurna, yang Terjadi Tak Selalu kita Suka, Tapi Kita Bahagia dengan Cara Mensyukurinya

Tidakkah Anda marah dengan kisah tersebut?

Bagaimana bisa?! Orang yang tertimpa musibah sebanyak itu membanggakan dirinya sangat lebih dan lebih baik dibandingkan manusia lain?

Bagaimana dengan kita?

Sebagian dari kita terlahir dalam keadaan sehat, mata sehat, pendengaran berfungsi baik, bisa berjalan, memiliki tangan yang kuat dan organ tubuh yang lengkap. Harusnya di sini kita merasa lebih dan lebih baik lagi dibanding manusia lainnya.

Di sini posisi kita lebih dan sangat-sangat lebih baik dari Abu Qilabah?! Tapi kenapa rasanya kita lebih buruk dibanding beliau. Keluhan kita terlalu banyak. Padahal sehat walafiat.

Kita tidak boleh kalah dari Abu Qilabah. Mana bisa kita kalah. Kita harus lebih banyak bersyukur! Harus lebih banyak daripada rasa syukur Abu Qilabah!

Baca Selengkapnya...
Back to top button
Close
Close