Renungan

Jangan Bangga Dengan Pujian. Ingat, Banyak Nyamuk Yang Mati Karena Tepuk Tangan

Seseorang menunjukkan keunggulan seseorang. Ya, memuji digunakan untuk memberikan apresiasi atau rasa kagum kepada seseorang karena penghargaan yang telah diperolehnya. Maka dari itu, orang akan memberikan pujian agar dapat menunjukkan rasa bangga terhadap orang lain yang dipuji itu.

Jika seseorang menerima pujian ini biasanya akan memiliki rasa kebanggaan tersendiri. Hanya, jangan salah, ternyata memuji juga membawa petaka. Kenapa bisa demikian? Karena biasanya, dengan pujian kita akan terlena, dan paling tinggi di antara yang lain.

Jika pikiran paling tinggi atau paling hebat itu bersarang di benak kita, berarti kita langsung setuju sombong. Itu berarti kita menerima diri sendiri dengan melepaskan yang ada tertinggi dari diri kita sendiri.

Sudah tentu Allah  yang memiliki posisi paling tinggi tersebut. Tapi, sebelum kita mencapai ke sana pun, masih ada orang-orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kita. Misalnya, jika kita seorang sarjana, dan orang-orang memuji kita karena kita sudah memiliki gelar tersebut. Hingga akhirnya kita terlena dengan posisi kedudukan tertinggi. Dan, kita lupa bahwa ada orang lain yang sudah menjadi doktor selain profesor, yang sudah pasti kedudukannya lebih tinggi dari seorang sarjana.

Maka dari itu, jangan dulu senang menerima pujian dari seseorang. Jika kita hidup hanya ingin terlihat memiliki segalanya dari orang lain, agar orang lain menghargai kita, itu tidak ada artinya. Apa sih yang akan kita terima dari pujian itu? Senang? Memang iya, tapi hanya sesaat. Tahukah Anda, jika senang itu berujung dengan kita memuji diri sendiri, maka petaka itu akan hadir dengan sendirinya.

Seperti mengundang iblis yang membantunya dibuat dari api hingga ia tak mau bersujud kepada Adam AS. Apa yang terjadi? Akhirnya ia dikeluarkan dari surga oleh Allah . Itulah contoh dari orang yang selalu dapat Anda percayai, hingga lupa bahwa kita harus menyimpan yang sempurnya. Pasti kelemahan itu ada dan melekat pada diri kita sendiri.

Ingatlah bahwa itu hanya milik Allah  saja. Kita tidak memiliki hak itu. Maka, jangan mau untuk dipuji. Kalau pun ada yang memuji kita, jangan ada niat sedikit pun diri kita ingin dipuji, lebih baik kembalikan penghargaan itu kepada Allah. Bagaimana caranya?

Ketika kita dipuji ucapkanlah alhamdulillah, yang berarti kita mensyukuri nikmat atas kelebihan yang diberikan oleh Allah. Lalu ucapkanlah masya Allah, yang berarti hanya Allah-lah yang Mahasuci, tak ada sedikit pun kekurangan dari-Nya, sedangkan kita yang menambah potensi yang tak luput dari kekurangan dan kesalahan.

Setelah itu barulah kita ucapkan astaghfirullahaladziim, karena takutnya ada pikiran yang menunjukkan kepuasan karena dipuji, yang membuat kita merasa senang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button