Inspirasi

Memberi Tanpa Mengingat-ingat, Menerima Tanpa Melupakan 

Banyak orang sulit melupakan kebaikan yang telah mereka lakukan kepada orang lain. Ingatan mereka bisa menjadi sangat kuat, bertahan selama berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Apakah kalian pernah menemukan orang-orang yang sering mengungkit kebaikannya. Atau itu diri Anda sendiri?

“Pinjem uang dong, aku dulu pernah kasih kamu duit, lho. Inget gak?”

“Tolong jagain anakku, dulu pas kamu kecil aku yang ngerawat kamu pas orang tua kamu pergi.”

“Aku pernah kasih uangku ke pengemis itu!”

Dan contoh-contoh lainnya.

Selamat datang di dunia yang serba perhitungan ini. Segala kebaikan diungkit-ungkit sementara kebaikan orang lain dilupakan.

Kebaikan yang Terus diungkit-ungkit

Bukankah ini mengacaukan keikhlasan dari pemberian Anda? Mungkin memang lisan Anda mengatakan ikhlas, tapi hati Anda terus-terusan mengingat dan bertanya-tanya,

“Katanya sedekah bikin harta kita dibalikin berkali-kali lipat, tapi kenapa aku belum dapetin itu?”

Yang mana, secara tidak langsung mengartikan bahwa setiap ada pemberian, juga harus ada penerimaan. Berarti Anda mengharapkan timbal balik juga. Apakah itu yang dinamakan ikhlas?

Tentu saja tidak.

Ikhlas itu sulit dilakukan. Namun jangan menyerah untuk berusaha. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan agar bisa dipandang ikhlas oleh Allah dengan tidak mengingat-ingat segala kebaikan yang telah Anda lakukan pada orang lain.

Menjadi baik dengan memberikan bantuan kepada orang itu belum cukup. Lebih baik lagi kalau Anda melupakan bahwa diri Anda pernah berbuat baik kepada orang lain.

Kebaikan Orang Lain yang dilupakan

Ini merupakan lanjutan dari kebaikan yang sering diungkit. Mereka saling berhubungan.

Dan bisa jadi, efek dari melupakan kebaikan orang ini lah, kebaikan yang harusnya tidak diungkit jadi diingat-ingat kembali lalu disampaikan pada orang yang ‘pernah’ menerima kebaikan tersebut.

Dan bisa pula terjadi, karena kebaikan orang lain yang dilupakan ini membuat orang itu mengungkit kebaikannya sendiri. Keduanya sama-sama salah.

Mengungkit kebaikan diri sendiri itu salah, melupakan kebaikan orang lain juga salah. Dan apapun kondisi Anda yang pernah berbuat baik, jangan pernah ungkit-ungkit kebaikan Anda meskipun orang tersebut lupa. Biarlah itu menjadi urusan dia dan ingatannya sendiri.

Dalam kasus lain, saat ini lebih mudah mengingat keburukan orang lain daripada mengingat kebaikannya. Meskipun kebaikan itu ada banyak, sementara yang jahat itu satu.

Heran, kenapa bisa begitu.

Bagaimana dengan Anda? Apakah lebih mudah mengingat-ingat kejahatan seseorang daripada kebaikannya. Untuk mengetahui itu, perhatikan perkalian berikut.

1×1= 2            1×6= 6

1×2= 2            1×7= 7

1×3= 3            1×8= 8

1×4= 4            1×9= 9

1×5= 5            1×10= 10

Bagaimana?

Bila Anda fokus pada 1×1= 2, berarti Anda harus mulai belajar lagi cara melihat kebaikan orang lain serta mengingatnya.

Selain mengingat kebaikannya di satu titik kecil kejahatan, belajar juga mengingat setitik kecil kebaikan orang lain di seluruh kejahatan yang dilakukan kepada Anda.

Dia boleh pernah menyakiti Anda, berkata-kata kasar kepada Anda, menyakiti orang yang Anda sayangi, tapi tetaplah ingat, dia pernah tersenyum tulus kepada Anda.

Ingatlah setiap hal baik meskipun kecil yang seseorang lakukan padamu. Lupakan kejahatannya. Kita bisa menjadi pribadi yang pemaaf dengan melupakan kejahatan orang lain.

Serta, menjadi ikhlas dengan melupakan kebaikan kita sendiri. Mari kita memberi tanpa mengingat-ingat dan menerima tanpa melupakan.

Baca Selengkapnya...
Back to top button
Close
Close