Mengalah Bukan Berarti Kalah, Karena Seorang Yang Dapat Melawan Emosinya Adalah Pemenang Yang Sesungguhnya

Betapa nestapanya menerima kekalahan. Harga diri seolah-olah terbanting, tidak ada harganya sama sekali. Tak seorang pun menginginkan kekalahan, berat sekali untuk mengaku kalah. Menjadi kalah adalah impian paling buruk bagi manusia, walau tak selamanya manusia selalu menang. Mau mengakui atau tidak, legawa atau tidak, ada saatnya manusia mengalami kekalahan.

Tetapi kalah berbeda jauh dengan mengalah. Mengalah tidak berarti kalah.

Kalah menunjukkan kondisi ketika manusia sudah dalam keadaan terpojok, tetapi mengalah bisa jadi sebuah taktik mengelabui lawan. Mengalah bisa merupakan alternatif terbaik ketika jalan lain sudah buntu. Mengalah mencerminkan kondisi kedewasaan seseorang.

Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengendalikan dirinya sehingga bersikap bijaksana dalam kehidupannya. Mengalah adalah bagian dari sebuah sikap yang bijaksana, puncak dari pengendalian diri. Sebuah sikap yang dalam era kekinian sangat muskil dipahami orang. Semua orang berebut untuk menang, bukan berebut untuk kalah.

Banyak orang bilang susahnya setengah mati untuk berebut kekuasaan. Semua cara ditempuh, toh tak semua orang berhasil.

Ratusan orang mendaftarkan diri sebagai calon legislatif, tapi hanya sebagian kecil saja yang berhasil menjadi anggota legislatif. Ribuan siswa berebut tempat di perguruan tinggi, nyatanya hanya beberapa ratus saja yang diterima.

Memang berat merebut kekuasaan, bukan pekerjaan gampang menjadi pemenang. Tetapi jauh lebih berat lagi adalah mengendalikan kekuasaan. Bagaimana menjadi manusia yang berkuasa tetapi tidak ‘kemaruk’ kekuasaan. Dari sekian penguasa, hanya segelintir saja yang mampu mengendalikan kekuasaannya. Menguasai orang lain gampang, tetapi menguasai diri sendiri alangkah beratnya.

Padahal Plato sudah berteriak ribuan tahun silam bahwa kekalahan yang paling menyedihkan dan paling memalukan adalah kekalahan pada diri sendiri. Dalam konteks Islam kalah melawan hawa nafsunya sendiri. Peperangan yang paling dahsyat adalah peperangan melawan hawa nafsu.

Wani ngalah luhur wekasane
Budaya Jawa banyak mengandung ajaran kehidupan yang luhur nilainya.

Hampir seluruh ajaran yang ada semuanya berlandaskan budi pekerti yang agung, inilah salah satu kelebihan budaya Jawa dibanding budaya lain, khususnya mancanegara. Orang asing tertarik pada kebudayaanIndonesia, khususnya Jawa karena keluhuran ajarannya.

Ajaran tersebut tak selamanya ketinggalan jaman biarpun saat ini manusia sedang gandrung-gandrungnya mempraktekkan budaya milenium. Banyak diantaranya yang justru lebih moderat daripada ajaran modern, tak salah jika banyak anak muda yang mulai tertarik untuk kembali menyibukkan diri mempelajari budaya nenek moyang. Mereka merasa menemukan ajaran yang pas yang tidak didapatnya dari budaya milenium.

Salah satu ajaran yang seringkali didengung-dengungkan orang, namun biasanya sebatas slogan itu adalah wani ngalah luhur wekasane. Artinya berani untuk mengalah demi mendapatkan kemenangan pada akhirnya. Ajaran ini yang sering disalahartikan orang, sehingga sepintas lalu sangat bertolak belakang dengan kecenderungan manusia sekarang.

Padahal  jika mau direnungkan lebih dalam ajaran tersebut justru merupakan taktik paling jitu dalam mempertahankan diri dari serangan lawan. Sebuah taktik yang sering menipu lawan, sehingga membuatnya lengah karena merasa sudah menang. Disaat lawan lengah itulah tiba-tiba dilakukan serangan secara mendadak. Dan lawan pun tak sempat menyadari kesalahannya karena sudah keburu hancur.

Ada baiknya jika manusia mulai memperhatikan ajaran tersebut, lebih baik lagi jika mau mempelajarinya secara tuntas. Ajaran ini mengajak manusia untuk mengalah, karena sebenarnya mengalah itu bukan berarti kalah. Mengalah menunjukkan pribadi yang menang, menang melawan hawa nafsunya sendiri. Juga bukan karena tidak berani menghadapi lawan, tetapi ia ingin mengalahkan lawannya dengan sikapnya yang mau mengalah.

Berani mengalah contohnya sebagai berikut:

Seorang karyawan akan ditunjuk menjadi kepala bagian misalnya. Namun ada karyawan yang merasa lebih berhak sehingga protes atas keputusan tersebut. Karena itu daripada ramai-ramai ia menyatakan tidak bersedia atas jabatan tersebut, walaupun sebenarnya ia dilihat dari pengalaman, kualitas dan dedikasi ia jauh merasa lebih pantas.

Sikapnya yang berani mengalah ini tentu akan menimbulkan simpati pimpinannya.
Adadua kemungkinan bagus untuknya, kalau tidak diangkat menjadi kepala bagian bidang lain, karyawan lain tadi akan merasa malu sehingga mencabut protesnya. Kemungkinan buruk ia tetap menjadi karyawan biasa tetapi akan mendapatkan kemuliaan dari rekan-rekannya. Sebab, tak banyak karyawan seperti itu.

Ketika semua orang berebut kekuasaan, orang yang enggan berkuasa menjadi barang langka. Dan kelangkaan ini akan memberinya nilai tambah, seperti barang antik yang harganya mahal tapi banyak dicari orang. Perusahaan modern berebut mencari orang seperti ini, orang yang tak berebut kekuasaan disaat yang lain saling memburunya. Orang yang tidak berebut kekuasaan mencerminkan pribadi yang tidak ‘kemaruk’ kekuasaaan, sehingga diharapkan akan menjadi pemimpin yang benar-benar menjiwai kepemimpinannya.

Baca Selengkapnya...
Back to top button