Inspirasi

Sebaik Apapun Diri Kita, Manusia Tak Akan Pernah Terlihat Sempurna Di Mata Manusia

Layaknya Anda berdiri di puncak gunung, lalu melihat para manusia yang tampak kecil di bawah sana. Sementara manusia lain mencoba melihat puncak gunung, tapi mereka tidak bisa melihat Anda karena ukuran kalian terlampau kecil di mata orang-orang itu.

Seberusaha apapun Anda mencoba menjadi yang terbaik, pasti ada saja orang yang membenci di samping orang-orang yang mengagumi. Bahkan diri Anda pun pasti juga seperti itu.

Meskipun tidak melakukannya secara terang-terangan, pasti kalian juga pernah mencibir perilaku orang lain padahal dia sudah melakukan hal yang baik.

Jangan hanya menyalahkan orang lain, menganggap dia ini-itu, tidak menghargai, haters, bullying dan lain-lain. Kita juga butuh bercermin. Kita juga pasti pernah melakukan hal itu walaupun tidak seterang-terangan atau semenyakitkan mereka.

Kembali lagi pada analogi orang yang melihat manusia dari atas gunung dan manusia lain yang melihat orang-orang yang berdiri di puncak gunung.

Bukan bermaksud menganggap diri kalian sama, dan semua manusia salah. Tapi mari kita menyadarkan diri, serta berubah untuk tidak menjadi seperti mereka.

Sebaik Apapun Diri Kita di Mata Manusia, Tak akan Pernah Terlihat Sempurna di Mata Manusia

Banyak orang mengeluh, sudah melakukan yang terbaik tapi tetap saja dihujat. Sudah melakukan apa yang mereka katakan, tetap saja dicibir, ada yang kurang lah, kurang ini kurang itu.

Ada juga yang mencoba hijrah, tapi malah dibanding-bandingkan dengan hijrah orang lain.

Dunia ini begitu kejam memang. Sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap saja salah.

Berat jika harus mengikuti apa kemauan sesama manusia. Mereka tidak punya rasa puas, dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain.

Maka dari itu … mari! Kita mulai menerapkan standart hidup baru dengan tidak memedulikan kepuasan manusia lain untuk memperoleh penilaian terbaik mereka dengan cara berikut ini:

Gunakan Standar Penilaian Allah, Jangan Gunakan Standar Milik Manusia

“Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuh umat manusia dan tidak pula menilai ketampanan wajahnya, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hati hambanya.” (HR. Muslim)

Lebih mudah mengikuti standart Allah daripada manusia. Anda tak perlu diet ketat, tak perlu malu dengan besar, kecil, mancung, pesek hidung kalian, tidak peduli dengan brand-brand apa yang Anda pakai, tak peduli apakah Anda tinggi atau pendek.

Semudah itu.

Kenapa tidak dari dulu kita memakai standar penilaian Allah? Kenapa malah mempersulit dan melukai diri sendiri dengan cacian orang yang sebenarnya ‘sama’ dengan kita.

Tidak Usah Takut Jika Tidak Ada Orang yang Tidak Menyukai Kita

Apa yang terjadi jika mereka tidak menyukai kita? Apakah kita akan masuk neraka?

Mereka Tuhan?

“Tak perlu bersikeras menjelaskan siapa dirimu, karena orang yang mencintaimu tidak membutuhkan itu. Dan orang yang membencimu tidak akan percaya dengan itu.” Ali bin Abi Thalib RA.

Yang paling penting adalah kita tidak melakukan hal-hal yang salah di mata Allah.

Yang mencatat amal jelek dan amal baik bukanlah manusia, tapi Malaikat Rakib dan Atid yang diciptakan Allah untuk mengawasi segala tindakan kita.

Penilaian Manusia itu Tidak Penting Tapi Kadang Penting

Kita harus bijak di bagian ini. Penilaian manusia memang tidak penting, tapi tidak semua penilaian tidaklah penting.

Ada orang yang mungkin mencoba belajar tidak memedulikan penilaian orang lain, sampai membuatnya menyalahkan semua penilaian manusia, dan menganggap dirinya sudah sangat benar. Malah adapula yang sampai membuat hukum sendiri bahwa perbuatannya itu benar, dan yang lain itu salah.

Untuk menghindari kebodohan tersebut, jangan pernah lepaskan pegangan Anda dari jalan Allah. Banyak yang salah dengan tidak memahami maksud dari ‘tidak memedulikan penilaian manusia’. Sampai membuat mereka menutup pintu nasihat dari orang lain.

Lagipula, mendengar komentar orang lain juga tidak selamanya buruk.

Tahukah Anda dengan kisah sebuah besi yang berubah menjadi golok?

Sebelum menjadi tajam, mereka perlu ditempa, dipukul dan dipanaskan berkali-kali. Tahukah Anda betapa sakitnya ketika dipukul dengan palu?

Rasanya sangat sakit, tapi jika membuat kita menjadi tajam kenapa tidak kita coba dengarkan saja?

Ingatlah, Allah bersama kita. Kalian pasti kuat melewati ini semua!

Ada Contoh Percakapan yang Saya Harapkan Bisa Terjadi

Terjadi antara manusia yang berdiri di puncak gunung dan manusia lain yang ada di bawah kaki gunung.

A : Hey, kau tampak kecil dari sini.

B : Kau juga tampak kecil dari sini.

A : Iya, kita kan sama.

B : Sama-sama manusia.

Kita semua kecil. Tak bisa menjadi sempurna, dan tak ada manusia yang sempurna.

Baca Selengkapnya...
Back to top button
Close
Close