Tetap Fokus Melihat Kedepan Pasti Ada Jalan Menuju Hidup Yang Lebih Baik

Sepasang mata yang kita miliki adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Karenanya kita bisa menikmati warna-warna kehidupan dengan jelas. Mata untuk melihat. Kalau diprosentase arah pandangan mata , maka prorentase terbesar untuk melihat kedepan. Saat berjalan, berkendara arah pandangan kita lebih banyak focus kedepan. Sesekali dua kali pasti juga menengok ke belakang.

Saat berkendara kita memang membutuhkan kaca spion untuk sesekali melihat apa yang ada dibelakang kita. Membuat kita hati-hati dan waspada  terutama saat mau belok arah. Tapi jangan terlalu sering dan focus menengok kearah spion belakang, yang terjadi adalah tabrakan. Yang didepan lebih penting kita lihat, karena arah kendaraan kita pastinya melaju kedepan bukan kebelakang.

Begitulah hidup ini. Ternyata dalam menapaki perjalanan hidup, kehidupan telah mengajarkan kita untuk lebih banyak dan fokus melihat kedepan, bukan kebelakang.

Didepan kita punya masa depan dan harapan. Dibelakang kita punya masa lalu. Masa depan ada yang jangka pendek dan ada yang jangka panjang. Bagi insan yang beriman, dunia yang kita pijak sekarang ini adalah jangaka pendek kita dan akhirat sebuah kepastian masa depan berjangka panjang bahkan selama-lamanya. Keduanya harus dilalui tanpa harus memilih mana yang penting dan tidak.

Sedangkan masa lalu bukan kita jadikan fokus utama , cukup kita tengok untuk bahan evaluasi diri, perenungan, instrospeksi meneguk hikmah kejadian masa lalu.

Kita pilah dan pilih. Masa lalu yang buruk bukan trus diratapi. Tetapi untuk di istighfari dan di taubati jangan terulang lagi untuk masa depan. Prestasi terbaik trus dipertahankan dan dilejitkan kembali. Tidak ada manusia yang suci dimuka bumi ini kecuali Nabi dan rasul yang maksum. Berarti salah, cacat dan noda pernah dilakukan oleh semua manusia. Yang terbaik diantara manusia yang pernah berbuat salah adalah komitmen untuk tidak mengulangi dimasa yang akan datang diiringi dengan pertaubatan yang sunguh-sungguh (taubat nashuha).

Dunia ini memang fana, terbatas. Ada yang menyebut bagai permainan sandiwara. Namun bukan berarti tidak penting.

Kalau kita menganggap tidak penting maka kita akan melalaikannya. Sebaliknya dunia ini penting bagi insan beriman untuk berkarya, menanam benih sebanyak-banyaknya sebagai bekal perjalanan panjang yang abadi alam akhirat. Hanya ada dua pilihan surga atau neraka. Golongan kanan atau golongan kiri. Dalam sebuah hadist baginda nabi pernah menyampaikan dunia ini adalah ladang bagi kehiupan akhirat. Kalau kita menanam padi maka akan tumbuh rumput, namun jangan pernah berharap tumbuh padi kalau kita menanam rumput. Setiap diri akan menuai hasil diakhirat berdasarkan amalnya di dunia. Inilah pentingnya dunia untuk diperhatikan. Terbaik dilakukan dengan tampil bermain dipanggung sandiwara ini mengikuti skrip yang ditulis Sang Sutradara kehidupan. Ialah Allah swt. Sang Sutradara telah mendesain episode kehidupan yang seharusnya dijalani oleh para pemain, bila kita taat mengikutinya pasti akan berakhir bahagia. Namun bila kita membangkang keluar dari rel skrip yang sudah ditetapkan, menuai celaka selama-lamanya. So jadilah pemain yang baik jangan berperan antagonis.

Rasulullah saw memberikan gelar orang yang cerdas (al-kayyis) sebagai orang yang disibukkan selalu memikirkan dan berkarya setelah kematian.

Sedangkan orang yang bodoh, ia hanya sibuk memikirkan urusan kenikmatan dunia melalaikan urusan setelah kematian.  Bahkan beliau Rasulullah saw juga mengisyaratkan kualitas umatnya nanti bagaikan buih dilautan, ringan terombang ambing dihempas ombak pecah berantakan. Hanya disebabkan umat mengidap penyakitwahn.  Yakni akibat virus cinta dunia dan takut mati. Orang bila mengidap penyakit kronis ini bagaikan sampah kehidupan.

Perjalanan hidup ini terus melaju kedepan. Esok adalah masa depan, hari ini sebentar lagi juga akan menjadi masa lalu.

Mata untuk melihat kedepan. Genggamlah harapan. Karena harapan lah kita bisa survive dimuka bumi ini. Lihatlah seorang ibu dengan sabar dan telaten menyusui anaknya berbekal harapan kelak anaknya akan menjadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Seorang kakek yang menanam pohon mangga bermodal harapan agar pobon manga yang ia tanam bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya. Harapan besar hanya bisa kita sandarkan kepada Allah swt. Janji-janjiNya adalah harapan kita. Harapan menggapai janji itulah kita siap melesat secepat kilat bersegera menggapainya  dan kita menjadi bagian dari keberhasilan janji itu terwujud.

Baca Selengkapnya...
Back to top button